Kasih Sayang Bukan Sebatas Pemenuhan Materi

WAWANCARA  dengan 
Drs.H.A Rahman Hasan, Ketua BNN Banyuasin (2012)

Pemenuhan kebutuhan materi di tengah ekonomi yang kian menghimpit, acapkali membuat sebagian orang tua lupa terhadap komunikasi dengan anak. Bahkan kasih sayang seringkali diartikan sebatas pemenuhan materi. Akibatnya, tidak sedikit kalangan muda yang terjebak dalam obat-obat terlarang. Bagaimana komentar Drs.H.Rahman Hasan, Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Wakil Bupati Kabupaten Banyuasin tentang hal itu? Berikut petikan wawancara Imron Supriyadi dari METRONEWS, ditulis untuk Anda;
—————————————————————

Rahman Hasan, Ketua BNN Banyuasin (2012)

Secara nasional, pemakai narkoba meningkat 20 persen. Sebagai Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Banyuasin, bagaimana komentar Anda?
Di Kabupaten Banyuasin ini, kalau soal narkoba boleh dikatakan sudah cukup tinggi, meskipun hanya di beberapa daerah tertentu. Bahkan saya dapat laporan dari warga, masalah narkoba ini bukan hanya di kalangan anak muda saja, tetapi ada ibu-ibu rumah tangga yang terlibat dalam jual beli narkoba. Ini kan sangat membahayakan. Tetapi ya itu tadi, hanya beberapa daerah saja, tidak semua di wilayah ini.

Menurut pengamatan Anda, apa yang sebenarnya menjadi penyebab kalangan muda terjebak dalam narkoba?
Penyebab narkoba ini sangat banyak. Tetapi semua ini bermula dari adanya pengedar dan pemakai. Yang saya lihat, peredaran narkoba ini sering terjadi melalui Organ Tunggal (OT). Pada saat acara OT ini, banyak berdatangan para pengedar dari berbagai kota, termasuk dari Palembang dan kota lainnya. Karena moment ini menjadi sasaran yang menurut mereka sangat strategis. Kadang-kadang OT ini sampai jam tiga menjelang subuh. Makanya kita kemudian bertemu bersama unsur Tripika, untuk melakukan diskusi mencari jalan keluar, dalam mengatasi peredaran narkoba melalui acara OT di beberapa tempat. Dan sekarang, kita sudah membuat kesepakatan, boleh menggelar OT tetapi terbatas sampai jam dua belas malam. Itu sudah menjadi perjanjian. Dengan cara ini paling tidak kita bisa mengurangi. Dan kami juga tidak melarang warga untuk mengadakan OT, nanti kita dituduh membatasi warga dan melanggar HAM. Tetapi ada upaya yang kita lakukan dengan membuat kesepakatan tadi.

Dari sisi keluarga, apakah mungkin juga menjadi salah satu penyebab? Misalnya kurangnya perhatian orang tua?
Ya, itu juga menjadi bagian penting. Parhatian dan pengawasan dari orang tua juga dapat berpengaruh pada anak, apakah mereka akan terjebak dalam obat terlarang atau tidak. Kalau orang tua menjadi tempat curhat, komunikasi terbangun dengan baik, saya pikir tidak akan anak-anak kita terjebak dalam narkoba. Nah, selama ini yang terjadi sebagian keluarga komunikasi antara anak dan orang tua sangat jarang, karena kesibukan diluar. Akhirnya anak-anak mencari perhatian lain. Karena di luar pergaulannya tidak terkontrol, kemudian ketemu dengan anak-anak lain yang pengedarkan narkoba, lalu coba-coba. Akhirnya ketagihan. Sebenarnya pada awalnya mereka itu dikasih gratis. Tetapi kalau sudah kecanduan, nanti mereka membeli sendiri. Nah, disinilah kadang-kadang kalau orang sudah sakaw mau menjual apa saja yang ada di rumah, yang penting dia bisa membeli narkoba. Disinilah pentingnya perhatian orang tua. Kalau perlu, setiap waktu, orang tuanya membuka tas anaknya. Jangan-jangan di dalam tasnya ada narkoba.

Bentuk Perhatian yang bagaimana menurut Anda?
Kalau tentang pengawasan dan perhatian memang tanggungjawab kedua orang tua. Tetapi yang paling banyak berhubungan dengan anak adalah ibu. Jadi peran ibu sangat besar dalam mendidik anak-anak. Makanya dalam sebuah hadist disebutkan, wanita itu tiang negara. Kalau baik wanita maka akan baik negara. Tetapi sebaliknya kalau buruk wanita, maka buruk juga negara. Nah, wanita disini adalah ibu di dalam rumah. Curahan kasih sayang orang tua pada anak akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan jiwa anak. Kasih sayang jangan hanya diartikan memenuhi kebutuhan materi. Tetapi membuka ruang komunikasi antara anak dan orang tua juga menjadi bagian penting. Sebab dari komunikasi ini anak tidak menjadi takut, tetapi segan dengan orang tua. Kalau takut, anak akan menjauh, tetapi kalau segan anak akan medenkat. Disinilah dapat dilakukan pendekatan pendidikan moral pada anak-anak kita.

Peran sekolah dan lingkungan bagaimana?
Kalau dulu, saya waktu masih di Sekolah Rakyat (SR), itu ada pelajaran budi pekerti. Didalamnya ada tata cara bagaimana menghormati orang tua, guru dan orang tua di lingkungan sekitar, seperti tokoh masyarakat dan tokokh agama. Tetapi yang saya lihat sekarang sudah berbeda. Antara orang tua, guru dan anak sangat kurang menghormati. Kalau dulu mau pulang sekolah saja harus bersalaman. Ketemu di jalan juga bersalaman. Tetapi sekarang tradisi yang ber-etika seperti itu sudah berkurang. Ini juga akibat dari dampak lingkungan yang saat ini sangat mempengaruhi jiwa dan pertumbuhan anak. Disinilah peran sekolah juga sangat penting bagaimana menanamkan nilai-nilai moral bagi anak terutama agama. Sebab pangkal tolak anak akan baik atau buruk, kalau agamanya kuat dididik dari rumah dan sekolah anak akan tumbuh menjadi jiwa yang kuat, dan tidak mudah terpengaruh pada lingkungan sekitar. Dalam agama inilah semua pesan moral sangat lengkap. Sejak tata cara makan, menghoirmati orang tua, guru dan orang tua di tengah masyarakat. Penanaman nilai-nilai taqwa pada anak di sekolah dan keluarga menjadi sangat penting. Kalau sudah agamanya kuat, dampak lingkungan yang buruk tidak akan menggoyahkan mental anak kita.

Menurut anda, selama ini bagaimana kepedulian orang tua dalam mendidik anak-anaknya dalam hal agama?
Kalau soal agama, kita tidak bisa memukul rata di semua keluarga, atau fokus di satu tempat saja. Tetapi kita bersama masyarakat, lembaga pendidikan dan beberapa remaja masjid, mushola selalu bekerjasama dalam melakukan sosialisasi bahaya narkoba. Dalam pertemuan itu kita hadirkan beberapa unsur, misalnya dari kepolisian akan menjelaskan dari sisi hukum. Kemudian dari sisi penuntutan ada pihak kejaksaan. Dari sisi kesehatan kita hadirkan juga Dinas Kesehatan. Dan kita menghadirkan Dinas Pendiidkan Nasional, untuk melihat seberapa bahaya akibat narkoba terhadap pendidikan, sekaligus para tokokh agama. Sehingga dalam menjelaskan bahaya narkoba ini, anak-anak di sekolah, remaja masjid dan mushola dapat informasi yang komprehensif dari berbagai disiplin ilmu. Tentu semua ini hanya akan berjalan jika mendapat dukungan semua pihak. Sebab melakukan pendidikan agama, terutama berkaitan dengan bahaya narkoba ini tidak bisa sendiri-sendiri. Harus semua elemen terlibat. Keluarga, sekolah, masyarakat dan semua pihak.

BNN sendiri, selama ini bagaimana cara mengatasi persoalan bahaya narkoba?
Kalau di Banyuasin, saya di BNN sudah melakukan kordinasi dengan unsur Tripika. Disitu ada Camat, Polsek, tokoh masyarakat, tokoh agama dan juga Koramil. Dengan cara ini kita dapat duduk bersama dan mencari jalan keluar yang solutif, yang dapat menekan bahaya narkoba. Semua unsur Tripika kita minta pendapat, bagaimana jalan keluar yang terbaik, sehingga pemberantasan narkoba ini bisa berjalan dengan baik. Dari pertemuan itu, kemudian muncul jalan keluar, apa yang harus dilakukan. Baru kita bersama-sama melaksanakan program dari hasil pertemuan itu.

Apa strategi yang dilakukan?
Kalau yang sudah kita lakukan, bagaimana kita memberi ruang bagi anak-anak muda untuk melakukan kreatifitas. Baru-baru ini saya membuka tournament olah raga. Kalau kita lihat, sangat banyak potensi anak muda kita yang bisa diarahkan, sehingga dengan cara ini pikiran buruk dan pengaruh jelek yang dapat mempengaruhi anak muda kita dapat dihindarkan. Dari Banyuasin, ada beberapa pemain sepak bola yang ikut dalam tim Sriwijaya FC. Ini kan potensi. Saya pikir, kalau kegiatan seperti ini terus dilakukan, lambat laun akan dapat mengarahkan anak-anak muda kita berpikir positif, sehingga tidak punya ruang untuk ikutan-ikutan memakai narkoba. Dengan pemberdayaan melalui olah raga, selain kita menggali potensi dan bakat, sekaligus mengajak mereka untuk berkreatifitas, sehingga mnereka punya aktifitas yang lebih produktif, tidak kemudian terjebak dalam narkoba.**

Sumber : Tabloid METRONEWS/23/03/2012   |  ILUSTRASI : GOOGLE IMAGE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s