Naskah Drama Panggung

 “DAYANG RINDU”

(Naskah Drama Panggung)

Ide Cerita

  1. A. Kori Ali

Penulis

Imron Supriyadi

Dipentaskan pada acara

Pekan Seni Budaya Muara Enim tanggal 20 – 27 November 2005

—————————————————————————————

Adegan 2

Lampu penggung gelap. Lambat laun terang. Tampak kemudian suasana dusun Tanjung Iran, tempat kelahiran Putri Dayang Rindu.  Suasana masih hening. Suara jangkrik sayup-sayu masih terdengar. Tetapi kesunyian itu kemudian dipecah oleh suara Tangis bayi, yang ditingkahi dengan suasana kegembiraan keluarga Rie Carang, Nenek Dayang Rindu.

 

  1. OS : Suara tangis bayi lahir

 Suara tangisan Dayang Rindu, kemudian diiringi dengan suasana warga, keluar dari rumahnya. Suasana warga demikian gembira, mendengar kelahiran Dayang Rindu. Semua orang seperti ingin memberi kabar tentang kelahiran Cucu Rie Carang ini.

  1. WARGA

(sambil memberi kabar dengan berlarian kesana kemari)

Cucu Rie carang lahir. Cucu Rie Carang Lahir. Rie Carang Punya Cucung.

Dari balik panggung Rie Carang yang gagah perkasa muncul dengan sangat bahagia,  dengan mengendong Cucu tercintanya.

                  

  1. Rie Carang

                   (tertawa bahagian dan bangga)

                   Ha…haaa.. ha…

         sekarang aku punya cucu. Cucu Perempuan yang cantik.

 

Warga kemudian mengerumuni, dan melihat wajah Cucu Rie Carang. Satu persatu saling tarik, untuk melihat cucu Rie Carang.

  1. Rie Carang

                   (kepada para warga / naik ke level)

                   Wahai warga dusun  Tanjung Iran.  Ku kabarkan pada kalian

semua. Rie Carang, Tetua adat Dusun Tanjung Iran, kini memiliki

cucu perempuan. Dan Cucuku inilah,  yang akan meneruskan

titisan Rie Carang.

 

Para warga masih termangu mendengarkan kalimat Rie Carang.  Sementara Rie Carang masih terlarut dengan kebahagiaannya.

  1. Rie Carang

                   (masih menggendong bayi / pindah ke level lainnya)

                   Dan kalian bisa melihat sendiri. Cucuku ini, bukanlah perempuan

sembarangan.   Coba, Coba kalian lihat diatas keningnya…

Rie Carang kemudian memperlihatkan Cucunya itu kepada para warga.

  1. Ria Carang

                    Tanda ini, akan menjadi simbol kebesarannya ketika ia dewasa.

Pembicaraan Rie Carang terhenti, ketika Dayang Rindu menangis sejadi-jadinya.

  1. Rie Carang

                   (terkejut)

                   Kenapa Kau Cucuku. Kenapa kau menangis demikian keras.

Salah satu warga kemudian mencoba memberi pengertian kepada Rie Carang.

 

  1. Warga 1

                   Rie Carang, kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya Cucumu ini

                   Jangan terlalu banyak terkena angin di luar. Tak baik bagi bayi

                   yang baru lahir.

Rie Carang memandang serius kepada warga.

Suara tangis Dayang masih terus terdengar. Rie Carang kemudian masuk ke balik panggung, diikuti oleh beberapa warga lainnya.

 

Lampu Mati. Panggung gelap.

Musik tradisional Sumsel (ceria) mengalun.

Adegan 2

Suara tangis dayang Rindu terdengar lagi. Lambat laun, hilang, secara perlahan. Rie carang muncul dari balik panggung.  Ia tampak gelisah. sebentar-sebentar berdiri, sebentar duduk. Seperti ada sestau yang sedang ia pikirkan.

 

Tiba-tiba dari arah luar, ada kurir masuk, mengahadap Rie Carang.

 

  1. Kurir

                   Salam ! Rie Carang

  1. Rie Carang

                   Hmm! (dengan membelakangi kurir)

                   Ada apa rupanya.

  1. Kurir

                   Ada Puyang Rasakadim, ingin bertemu dengan Rie.

 

Belum sempat Kurir berbalik. Rasakadim sudah muncul. Kurir Hilang di kegelapan panggung.

 

  1. Rasakadim

(bahagia / hormat)

                   Salam, Rie Carang.

  1. Rie Carang

                   (Berbalik tampak bahagia)

                   Salam Rasakadim.

  1. Rasakadim

                   (hormat / segan pada Rie Carang)

Maaf, kalau aku baru datang hari ini. Aku ingin mengucapkan

selamat, atas kelahiran cucumu.

  1. Rie Carang

                   Ya, terma kasih.

Tapi kemudian, Rie Carang mengalihkan perhatiannya. Ia menerawang. Rasakadim menatap heran.

  1. Rasakadim

                   Rie, maafkan aku, kalau kata-kataku ada yang menyinggung.

  1. Rie Carang

                   (berbalik mendekati dan menetralisir perasaan Rasakadim)

                   O, tidak. Tidak ada persoalan.

  1. Rasakadim

                   (heran)

Tapi, aku melihat, kau sedang memikirkan sesuatu.

Suara tangis bayi memecah kesunyian.

  1. Rie Carang

                    (kepada Rasakadim)

Kau dengar, itu tangisan cucuku.

 

  1. Rasakadim

                   Kenapa? Ada yang aneh dengan tangisan itu.

  1. Rie Carang

                   (menerawang)

Sudah hampir tujuh purnama cucuku lahir. Tapi, tangisan itu setiap

malam selalu menghantuiku. Tangisan  itu, hampir tak ada

hentinya.

  1. Rasakadim

                    (mengerti)

Itulah, Rie,  yang kemudian membawaku kesini. Aku sudah

mendengar dari para warga, tujuh hari setelah kelahiran cucumu,

tentang hal ini.

Kalau kemudian, aku baru datang sekarang, karena aku harus lebih

dulu meminta persetujuan, dari Tuan Rubiah Sanggul Gelung

  1. Rie Carang

                   (serius)

                   Apa kata Rubiah Sanggul Gelung?

  1. Rasakadim

                   (serius)

                   Name cucu kamu tu, belum ada yang cocok dengan kata hatinya.

  1. Rie Carang

                   (serius)

                   Maksudmu?

 

  1. Rasakadim

                   (serius)

                   Ada nama, yang aku usulkan. Dan ini sudah meminta persetujuan

dari Rubiah Sanggul Gelung.

  1. Rie Carang

                   (gembira)

                   Baik, kalau begitu.

Rie Carang kemudian menghadapkan dirinya dengan Rasakadim. Ia tampak bahagia.

  1. Ria Carang

                   (penasaran)

                   Siapa nama yang cocok dengan cucuku. Siapa Rasakadim?

Aku sudah tidak sabar lagi mendegarnya.

 

Kemudian, Rie Carang memanggil Isterinya.

  1. Rie Carang

                   (memanggil)

                   Nyi…! Nyi…! Bawa Cucuku kemari! Kita sudah temukan nama

                   Untuk cucu kita.

Istri Rie Carang tergopoh-goppoh masuk dengan membawa Dayang Rindu dalam gendongan. Suara tangisan bayi kemudian kembali memecah kesunyian.

  1. Rie Carang

                   (gembira)

                   Ayo Rasakadim, segeralah kau sebut nama untuk cucuku.

  1. Rasakadim

                   (agak ragu)

                   Tapi sebelumnya, aku dan juga Rubiah Sanggul Gelung tidak

menjanjikan, apakah  nama ini bisa menghentikan tangisan

cucumu atau tidak.

  1. Ria Carang

                   Aku yakin, nama dari kalian berdua dapat segera mengentikan

tangisan cucuku.

  1. Rasakadim

Nama untuk cucumu adalah Bang Lay Remas

  1. Rie Carang

(bahagia)

Bang Lay Remas, sebuah nama yang bagus.

                   (sambil berteriak bahagia)

                   Bang Lay Remas  nama cucuku. Bang Lay Remas, adalah cucu Rie

Carang.

 

Lambat laun, panggung gelap.

Suara Rie carang kemudian lenyap secara perlahan. Lampu kemudian secara perlahan terang.

 

Adegan 3

  1. Narator :

Sejak Bang Lay Remas menjadi nama Cucu Rie Carang. Tangisan itu sudah jarang terdengar. Namun, terhentinya tangisan Bang Lay Remas, ternyata tidak lama. Baru satu pekan, nama itu diresmikan dengan memotong Lembuare – seekor sapi yang istimewa, tangisan Bang Lay Remas kembali memecah kesunyian. Hingga, suatu ketika, Rie Carang menggelar Sayembara, untuk memberi nama cucunya. Dari Sayembara inilah, nama Cucu Rie Carang, yang sebelumnya Bang Lay Remas, menjadi Dayang Rindu. Kini dayang Rindu, sudah menjadi seorang gadis yang cantik jelita.

Lampu panggung Mati.

Musik mengalun lembut. Lampu secara perlahan hidup kembali.

 

Dari belakang panggung, dayang Rindu muncul. Ia anggun, tetapi tidak dengan pakaian yang norak. Rambutnya panjang mengurai. Tinggi semampai. Kulitnya putih. Dayang Rindu bergaul sebagaimana gadis-gadis lain didesanya. Dan seiring dengan itu, beberapa gadis lain juga mengikuti dari belakangnya. Mereka bermain se-adanya.  

 

Adegan 4

(Dalam adegan ini, bisa dirangkai sedemikian rupa, dengan mainan dusun sebagaimana gadis dusun di Sumsel umur 16 tahun-an), sebagian lagi duduk di Pance sambil bercerita se-adanya, sebagaimana cerita gadis dusun.

 

Dayang Rindu hanya duduk di Pance, bersama beberapa gadis lainnya. Mereka bercengkrama.

  1. Perempuan 1

Nanti kalau aku menikah, kalian datang ya.

Para perempuan lainnya, girang terkejut. Ada yang mengeledek. Dayang hanya tersenyum simpul.

  1. Perempuan 2

Kau mau menikah? Dengan siapa?

  1. Perempuan 1

Kalau tiba saatnya, kallian pasti tahu. Yang pasti menikah dengan laki2.

 

  1. Perempuan 2

Kalau begitu, kamu sudah dekat dengan malam pengantin.

Perempuan lainnya, bersorak, mengetahui bagaimana kegirangan sepasang suami-istri pada malam pengantin. Tiba-tiba Perempuan 2 bertanya pada Dayang Rindu…

  1. Perempuan 2

Kalau kau kapan akan menikah, Dayang?

  1. Perempuan 3

Waaaah, kalau Dayang menikah, laki-laki-nya harus pejabat kerajaan. Sebab, Dayang kan cucu-nya Rie Carang pembesar di wilayah ini.

  1. Dayang

Eeeh, jangan meledek. Yang penting seorang lelaki, baik-baik dan bertanggungjawab.

 

Adegan 5

Pembicaraan para gadis itu, kemudian terhenti, ketika sekelompok pemuda datang di hadapannya. Mereka Datang dengan hobi mereka menyambung ayam. Beberapa bujang itu, ada Naring Cili, salah satu laki-laki yang kelak tertarik dengan Dayang Rindu. Naring Cili tidak ikut nyabung ayam. Ia hanya berdiri melihat permainan. Di samping Naring, ada bujang, yang matanya kesana kemari. Seakan mencari pemandanagn lain, diluar permainan. Sementara para gadis agak menjauh dari kerumunan. Para bujang itu asyik menyabung ayam. 

 

  1. Bujang 1

(seolah menemukan sesuatu / kepada Naring Cili)

Eh, Naring, kau lihat gadis-gadis itu. (sambil menunjuk).

 

Naring Cili, ikut menikmati, beberapa gadis cantik yang masih asyik bermain di seberang jalan. Bujang1 terheran, ketika Naring Cili melihat dengan tajam  kepada salah satu gadis yang berambut panjang itu. Bujang1  heran.

 

  1. Bujang 1

(kepada Naring yang masih termangu melihat gadis)

Eh, kenapa kamu jadi termangu?

  1. Naring Cili

(agak gugup)

Ah. Tidak. Aku hanya terkesima saja.

  1. Bujang 1

Memang, yang pertama terkesima.

Akhirnya jatuh cinta.

 

  1. Naring Cili

Sebaiknya, kita pulang. Hari sudah senja.

Bujang1 kemudian, berteriak, mengajak bujang-bujang lain yang masih asyik mengadu ayam, untuk pulang.

 

  1. Bujang 1

Oi…Oi…Bujang dusun Galang Tinggi.

Kite balek. Hari la petang.

 

Musik mengalun.

Gadis dan bujang yang sebelumnya diatas panggung hilang ke balik panggung.

Adegan 6

  1. NARATOR

Begitulah pertemuan pertama, antara Naring Cili dengan Dayang Rindu. Sejak pertemuan itu, hati narang Cili, seakan terpaut terus dengan Dayang Rindu. Bahkan, setiap kali Naring Cili bertemu dengan Dayang Rindu, setiap kali pula, Narang Cili Jatuh sakit. Tapi, setelah bertemu dengan Dayang Rindu, penyakit Narang Cili dapat sembuh dan sehat sebagaimana sebelumnya. Dari sinilah, Naring Cili memutuskan, untuk melamar Dayang Rindu. Maka, Naring Cili, datang ke rumah Rie Carang yang merupakan nenek Dayang Rindu…

Lampu panggung, secara perlahan hidup.

Rie Carang masih berada di rumah. Ia tampak bercengkrama dengan perkututnya. Tiba-tiba dari arah luar, ada kurir masuk, mengahadap Rie Carang.

  1. Kurir

                   Salam ! Rie Carang

  1. Rie Carang

                   Hmm! (dengan membelakngi kurir / masih asyik dg perkututnya)

                   Ada apa Rir!

  1. Kurir

                   Ada Bujang dari dusun Galang Tinggi. Namanye Naring Cili.

                   Katanya, nak jumpa dengan Rie.

  1. Rie Carang

                   (masih membelakngi kurir)

                   ajung die masok.

Kurir keluar dari panggung.

Narang Cili, masuk dari balik panggung. Tapi, belum sempat membuka kata, Rie Carang sudah dulu menyapanya…

 

  1. Rie Carang

                   (masih membelakangi)

                   Apa yang membawamu kemari, Jang.

  1. Narang Cili

                   (sopan)

                   Hormat, Rie Carang.

Aku Naring Cili, dari Dusun Galang Tinggi.

Kedatanganku ke sini, hendak melamar Dayang Rindu

  1. Rie Carang

                   (tertawa)

Pemuda yang berani.

Datang sendiri, jauh dari Dusun Galang Tinggi,

untuk melamar cucu Rie Carang.

Kau tahu, apa persyaratan yang harus kau penuhi?

  1. Rie Carang

(tegas)

Apapun persyaratannya, aku akan penuhi

  1. Rie Carang

(tegas)

Bagus. Itu artinya, kamu siap segala risiko, jika kamu ingin

meminang cucuku Dayang Rindu.

  1. Naring Cili

Untuk itulah, Rie.

Aku  kesini sudah sedikit membawa bekal,  sebagai tanda ikatan

dan lamaran  kepada Dayang Rindu.

Narang Cili kemudian membuka bungkusan kain yang memang sudah dibawanya sejak ia datang. Rie Carang hanya mengamati. Setelah dibuak semua…

  1. Rie Carang

(manggut-manggut / sambil meneliti beberapa benda yg dibawa)

Naring Cili, beberapa syarat yang mesti kau penuhi, sudah cukup.

sirih selembar Niru, Pinang sebesar kulak, puyuh setakin dan

perhiasan, ini sudah cukup. Hanya satu yang belum kau bawa.

  1. Naring Cili

(sigap menjawab / penasaran)

Syarat apalagi yang aku harus aku penuhi.

Katakan Rie, katakan segera….

  1. Rie Carang

(Rie Carang mencoba menenangkan narang)

                   Sabar. Sabar Anak Muda.

                   Sebab, sekalipun aku katakan hari ini. Syarat yang satu ini,

                   Tidak bisa kau penuhi dalam sekejap. Kau perlu tujuh purnama,

 untuk memperoleh tanduk kerbau lembuare.

 Kau bisa dapatkan tanduk lembuare di wilayah kerajaan Mataram.

 Kau di sana harus menemui Tumenggung Mantik.

 Nah, itu bisa kau penuhi, Dayang Rindu akan menjadi milikmu

 Sepenuhnya.

Naring Cili tertegun sejenak. Tetapi, sebagai pemuda yang tangguh, Naring Cili tetap siap mencari tanduk lembuare..

  1. Naring Cili

Kalau memang itu persyaratan wajib yang mesti aku penuhi.

Maka, restui aku. Hari ini juga, aku berangkat.

Aku mohon diri, Rie. Usai tujuh purnama, aku akan kembali

Dengan tanduk lembuare.

Musik mengalun.

Rie Carang hanya menatap kagum dengan Naring Cili.

 

Lampu panggung gelap.

Rie Carang sudah hilang dari atas panggung.

Adegan 7

Lampu panggung kemudian secara perlahan terang kembali.

Gemercik air terdengar samar. Muncul kemudian, gadis-gadis dusun masuk ke panggung, termasuk dayang rindu. Layaknya mereka mau mandi. Gadis-gadis dusun membawa kinjaw (keranjang) berisi cucian. Sementara, Dayang Rindu membawa sebuah bokor, berisi peralatan mandi.

 

Mereka ramai bercengkrama.

                  

  1. Perempuan 2

(pada gadis-gadis lain)

Jangan terlalu di tengah, nanti terbawa air.

  1. Perempuan 5

Justeru di tengah yang paling enak.

Mandinya makin bersih, dayang.

Ketika mereka sedang mandi, Dayang kemudian berteriak, karena bokor yang berisi ubo rampe mandi hanyut, terbawa arus…

 

  1. Dayang

oi…tolongi aku. Tolong. Bokorku, bokorku hanyut.

Sontak saja, para gadis yang sedang mandi terkejut. Dan mereka mencoba mengambil bokor yang hanyut. Tapi para gadis tak berhasil mengambilnya. Dayang kecewa. Ia sedih.

  1. Perempuan 5

Sudalah, Dayang.

Kita berdoa saja, semoga bokor itu ditemukan oleh orang baik2.

Siapa tahu, bokor itu dikembalikan.

 

Dalam kondisi seperti itu, Dayang kemudian mengajak para gadis dusun, pulang. Dan gadis dusun pun mengiringi Dayang…

Adegan 8

Para Gadis dan Dayang Hilang. Lampu redup. Kemudian terang kembali. Setelah sebelumnya Narator membacakan lanjutan cerita.

 

  1. Narator

Sejak hanyutnya bokor, dayang Rindu dan teman-temannya, tak pernah lagi mandi di sungai. Mereka khawatir, hanyutnya bokor itu sebagai pertanda buruk bagi kampung mereka.

Tanpa sepengetahuan Dayang, bokor itu ditemukan oleh Seorang

Sunan dari Palembang. Dengan bantuan seorang resi, Sunan

Palembang berhasil menemukan tempat tinggal Dayang Rindu.  Sunan Palembang pun, mendatangi rumah Dayang Rindu.

 

Tampak kemudian, Rie Carang sedang berada di rumah. Ia tidak tampak Sibuk. Ia sesekali hanya, mengelus pedang pusakanya.

Saat itulah Sunan Palembang bersama dua pengawalnya datang…

 

  1. Sunan

Sore-sore Duduk memegang pedang

Pedang panjang dari Sumedang.

Jauh-jauh Aku, Sunan Palembang datang

ke rumah Rie Carang tuk melamar Dayang.

 

Spontan, Rie Carang membalas Pantun Sunan Palembang

  1. Sunan

Pedangku bukan sembarang pedang,

Tapi pedang titisan Puyang.

Cucuku bukan berhati bimbang

Die kini sudah dipinang

 

Balasan ini kemudian, disambut dengan tertawa angkuh oleh Sunan Palembang dan kedua pengawalnya.

 

  1. Sunan

Tuan Rie,

dalam sejarah, tak ade gadus yang berani menolak

pinangan Sunan Palembang.

Tapi, seorang Rie Carang, nenek Dayang Rindu

Telah berani menolak lamaran sunan Palembang.

Hebat…hebat… (sambil tertawa meremehkan)

 

 

 

Sebagai manusia biasa, Rie Carang agak tersinggung. Tapi ia tetap bisa menjaga wibawanya.

 

  1. Rie Carang

Sungai Musi mengalir ke Palembang

Luapannya sampai ke Belawan

Jangan harap bersanding dengan dayang

Kalau aku tak berekan care Sunan

 

Mendengar ungkapan  Rie Carang, Sunan kemudian sedikit menurunkan ego-nya.

  1. Sunan

(agak ragu / kikuk)

E, Maafkan aku, e, maafkan kami.

Mungkin kami terlalu lancang.

Tapi, boleh lah kami bertemu dengan Putri Dayang.

 

  1. Rie

(menjaga wibawa)

Sunan, kalaulah Sunan hendak meminang,

Sebaiknya menunggu sampai lepas tujuh purnama

Sebab, Pemuda Naring Cili sudah lebih dulu meminang Dayang

  1. Sunan

Kalaulah Sunan asal Palembang ini, tak jua berhasil membawa putri Dayang, dengan berat hati, kami harus memaksa.

Rie Carang terkejut. Tetapi Rie tetap sabar. Kewibawaannya sebgaia Tetua Adat masih terjaga. Dan ketika itu, Putri Dayang keluar dati balik panggung…

 

Adegan 9

 

  1. Dayang

(keluar tiba-tiba / menyela pembicaraan)

Perahu mainan dilipat-lipat, dimasukkan ke air raksa

Boleh saja Sunan berniat, tapi tak boleh dengan paksa.

  1. Sunan

(tercenung kagum dg kecantikan Dayang)

Kawat duri dililit benang, kato mertue jangan dibuang

Putri Dayang memang cantik Nian

Payolah kite ke Palembang.

  1. Sunan

(mendekati Dayang)

Dayang,

ke kota Padang, membeli nasi

Nasi rendang daging sapi.

Sungguh enak dayang dipandang,

Karena dayang cantik sekali.

 

  1. Dayang

(tegas)

Sebaiknya, Sunan segera tinggalkan tempat ini.

Sebab, sekalipun aku bersedia ikut ke Palembang,

Tentu tidak harus hari ini.

 

  1. Sunan

Tidak Dayang, hari ini juga kau harus ikut aku ke Palembang.

 

Rie Carang agak tersinggung, ketika tangan Sunan mencoba menarik tangan Dayang. Bersamaan dengan kemarahan Rie, Dayang kemudian masuk ke balik panggung….

 

  1. Rie Carang

(tegas / agak tersingung

Sunan !

Tidakkah kau bisa sopan sedikit terhadap cucuku.

  1. Rie Carang

(tertawa meremehkan)

Ha…ha….ha…

Baik, Rie. Hari ini aku gagal. Tapi besok atau sore ini juga

Aku harus membawa putri Dayang.

Sunan Palembang bersama dua pengawalnya keluar dari pangung dengan langkah lebar.

Rie Carang hanya memunggungi. Ada kemarahan di dadanya.

Tetapi belum lagi sempta meredakan amarah. Dari balik panggung jeritan perempuan, minta tolong. Rie terkejut, ketika tiba-tiba seorang perempuan keluar dari balik panggung…

                  

  1. Perempuan 1

                   (tersengal-sengal)

                   Rie, tolong Rie, Tolong. Dayang, Dayang…

  1. Rie Carang

                   (serius / sedikit panik)

                   Ada apa dengan Dayang? Ada apa?

  1. Perempuan 1

                   Dayang diculik, Rie. Diculik.

Rie Carang benar-benar marah. Dadanya penuh. Matanya merah. Sampai gugu gerahamnya menggeretek, sambil berkata

  1. Rie Carang

                   (marah)

Sunan Palembang. Sunan.

Sunaaaaaan.

Rie Carang kemudian mencabut pedangnya dan melangkah lebar.

Lampu kemudian gelap, ditingkahi musik (situasi marah)…

 

Adegan 10

Dua pengawal terlihat keluar ke panggung, baru saja menyeret Dayang Rindu. Setelah itu, Sunan mucul dengan bangganya, tertawa puas, karena sudah berhasil menculik Dayang ke Singgasananya di Palembang…

  1. Sunan

                   (tertawa puas)

Ha….ha…haa..

Dayang, kini kau sudah berada di singgasanaku,

Itu berarti, sebentar lagi kita akan menjadi suami isteri

Ha…ha…..

 

Tawa, Sunnan diikuti oleh dua pengawalnya.

  1. Sunan

                   (kepada dua pengawal)

                   Pengawal, bawa Putri Dayang ke kamarnya.

                   Jamu dia sebaik-baiknya.

  1. Dua pengawal

                   (dengan nada agak jenaka)

                   Okke, Bos !

Sunnan, kemudian masuk ke balik panggung. Diikuti Pengawal yang menarik Putri Dayang.

Musik mengiringinya…

 

Adegan 11

Lampu masih redup.

Lain di Istana Sunan Palembang, lain pula di rumah Rie Carang. Suasana masih duka. Sebab Dayang Rindu di culik Sunan Palembang. Rie Tampak sedih. Ia termangu, mencari jalan  keluar untuk mengambil Dayang Rindu…

  1. Narator

                   Di tengah pongahnya Istana di palembang, dusun Tanjung Iran

dirundung duka. Sejak Dayang Rindu diboyong paksa Sunan

Palembang, Rie Carang nenek Dayang Rindu, dilanda kepedihan

yang amat mendalam.

Di tengah kepedihan itu, Naring Cili, pemuda yang sebelumnya

sudah melamar Dayang berhasil membawa  tanduk lembuare.  Dan

ketika itu pula, naring Cili langsung menemui Rie Carang…

Naring Cili, yang masih tampak gagah itu muncul di rumah  Dayang Rindu. Sementara Rie Carang terkejut dengan kedatangan Naring Cili…

  1. Naring Cili

                   Salam Hormat Rie Carang !

 

Spontan, Rie terkejut.  Ia kemudian segera menetralisasi kepedihannya. Dan menyambut Naring Cili dengan hangat, layaknya ketemu dengan cucunya sendiri…

  1. Rie Carang

                   Salam, cucuku!

                   (Haru / sedih )

                   Akhirnya kau kembali, anak muda.

  1. Naring Cili

                   (mencoba mengeluarkan tanduk lembuare)

                   Rie Carang, tujuh purnama sudah berlalu.

                   Kini aku penuhi janji.

                   (sambil mengeluarkan tanduk)

                   tanduk lembuare, sudah kudapatkan.     

                   (sambil menyerahkan kepada Rie Carang)

                   terimalah tanduk ini, Rie.

 

Rie kemudian meninggalkan Naring Cili. Naring Cili heran…

  1. Rie Carang

                   (sambil menahan malu)

                   Simpan kembali tanduk itu, anak muda.

Naring Cili heran. Matanya menatap Rie Carang yang masih membelakangi.

  1. Naring Cili

                   (masih penasaran)

                   Apa? Simpan kembali.

Bukankah kau yang dulu mengatakan,

kalau satu syarat yang harus dipenuhi adalah tanduk lembuare.

  1. Rie Carang

                   (sekilas matanya ke arah Naring Cili, lalu membelakangi lagi)

                   Ya, itu dulu. Tapi sekarang ceritanya jadi lain.

                   Dayang Rindu telah….

  1. Rie Carang

                   (memotong kalimat Rie dg cepat berdiri mendekati Rie)

                   Katakan Rie. Katakan, siapa yang telah…?!

 

  1. Rie Carang

                   (memotong dg kalimat arif)

Sabar, anak muda. Sabar.

Aku paham, apa yang sedang kini bergejolak dalam batinmu.

Tapi kali ini, kita tidak boleh gegabah.

Sebab, kita akan berhadapan dengan seorang Sunan Palembang

Yang memiliki pasukan.

Belum lagi, Rie  Carang sempat melanjutkan kalimatnya. Naring Cili sudah lebih dulu emosi dan mohon diri…

  1. Naring Cili

                   (memotong kalimat Rie dg cepat)

Aku mohon diri, sekarang juga, Rie.

Aku akan hadapi Sunan Palembang.

 

  1. Rie Carang

                   (Rie tak kuasa menolak)

Sabar, Nak. Sabar.

(sambil mengikuti dari belakang Naring Cili)

 Kau tidak boleh sendirian anak muda.

Lampu gelap. Kemudian terang kembali.

 

Adegan 12

Lampu dinamis bersilang-silang. Adegan perkelahian, antara pasukan, Naring Cili dengan pasukan Sunan Palembang. Satu persatu terkapar bersimbah darah. Ratusan orang sudah terkapar. Dan ketika banyak pasukan sudah terbunuh, Naring Cili, keluar dari balik panggung menantang Sunan Palembang, dengan berteriak memanggil…

  1. Naring Cili

                   (menantang / sebelumnya bersyair)

                   Paruh Lantang dari Bukit Dagi

                   Tanduk kijang seperti kelewang

Jauh datang dari Dusun Galang Tinggi

Untuk menantang Sunan Palembang

Keluar kau Sunan !

Hadapi Naring Cili

 

Dari dalam  semak-semak. Sunan Palembang keluar dengan angkuh

  1. Sunan

                   (menyambut tantangan dengan angkuh)

Gagang parang dari belukar

Kayu merawan dari Telatang

Sunan Palembang tak kenal gentar

                   Lawan menantang siap di terjang

  1. Naring Cili

                   (Marah / sambil menunjuk muka Sunan)

Hai Sunan Palembang !

Tujuh Purnama ku tinggalkan dusun galang tinggi

Untuk mempersunting si dayang putri

Tapi, ternyata kau telah menyayat hati Naring Cili

  1. Sunan

                   (menyambut dengan tertawa angkuh / mengejek)

Jika Sunan Palembang berniat hati, tak ada yg bisa menghalangi

Termasuk pemuda yang bernama Naring Cili.

(tertawa) ha…ha….

 

  1. Naring Cili

                   (marah / sambil akan mengeluarkan pedangnya)

Sunan, kau sepertinya belum kenal dengan Naring Cili.

Ini akan kubuktikan, siapa naring Cili..

Naring Cili benar-benar sudah dalam puncak kemarahan. Ia kemudian hendak mengeluarkan pedangnya. Tetapi, spontan Naring Cili mengentikannya, karena tiba-tiba Dayang Rindu keluar dari balik panggung…

 

Adegan 13

Dayang Rindu keluar dari balik panggung. Keluar dan melerai pertengkaran Naring Cili dan Sunan Palembang…

                  

  1. Dayang

                   (memotong tiba-tiba)

Cukup! hentikan perkelahian ini.

Hanya karena ulah kalian, rakyat tak bersalah juga menjadi korban.

 

Kedua laki-laki itu  hanya diam.

 

  1. Dayang

Percuma, kalian mengaku sebagai orang-orang terhormat,

Kalau kalian ternyata masih diperbudak oleh nafsu angkara murka.

                   (sambil agak sinis)

                   Sekarang, siapa diantara kalian yang mencintai aku,

segera keluarkan pedang, dan potong aku menjadi dua.

  1. Sunan

(memotomng khawatir / mendekati Dayang)

Tapi, Dayang ?!

  1. Dayang

(tegas)

Sunan ! tak ada waktu untuk mengemis.

Lakukan kalau kau memang mencintaiku.

(kepada Naring Cili)

bagaimana dengan kau  Naring Cili ?

 

Dengan sigap, Naring Cili, segera menghunus pedangnya.

  1. Sunan

(memohon)

Dayang, dari pada kau harus mati,

Biarlah aku yang menjadi korban, demi kebahagiaanmu.

  1. Dayang

(tegas)

Naring Cili, atas nama cinta, lakukan apa yang kumau.

                   Dan nanti, setelah tubuhku menjadi dua,

kuburkan oleh kalian masing-maisng.

Naring Cili, bertugas menguburkan bagian atas.

Dan Sunan, menguburkan bagian bawah.

                   (Kepada keduanya)

Sekarang, siapa yang akan memotong tubuhku,

ikuti aku sekarang juga.

Dayang kemudian menuju sebuah bilik. Sementara Nariing Cili kemudian mengiringi dari belakangnya. Sunan hanya terpaku, melihat adegan itu.

Dari balik sinar yang memancar, terlihat kelebatan pedang Naring Cili memotong tubuh Dayang. Dan dikain putih, tersemburat cairan merah darah Dayang Rindu.

 Perlahan, lampu redup. Tinggal bercak merah darah. Naring Cili  keluar dari balik panggung, membawa dua bagian tubuh Dayang.

LAGU PILU TENTANG KEMATIAN MENGALUN LEMBUT…PERLAHAN LAMPU TERANG KEMBALI…. PARA PEMAIN KELUAR DARI BALIK PANGGUNG.

 

SELESAI. !

RAMADHAN -TANJUNG ENIM, 15 OKTOBER 2005

PENULIS : IMRON SUPRIYADI

SUMBER CERIT : A. KORI ALI (ALM)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s